Monday, November 21, 2016

Father, is the Daughter's First Love

When I was young, I used to admire intelligent people; as I grow older, I admire kind people.
- Abraham Joshua Heschel

Lahir dari seorang lelaki Betawi asli menjadi sebuah kebanggaan buat saya. Walaupun sering diejek teman karena dibilang 'gak punya kampung halaman' malah membuat saya senyum-senyum nyinyir sendiri. Yap. Unik.

Cerita sedikit, ayah saya itu orangnya sangat-amat-luarbiasa murah senyum dan ramah sama siapapun-bahkan sama orang yang belum dia kenal saat sedang liwat depan rumah kita. Karena itu juga, dia gampang sekali memaafkan orang-walaupun orang itu gak minta maaf langsung sama dia. Tulus ya....
dan, sadar gak sadar, saya pun ikut 'tertular' sama sifat dia yang seperti itu.
Saya itu 'nyengir-able' sama siapa aja, dan saya belajar buat mudah memaafkan orang, tapi malah kadang suka kebablasan, hehe.

Tapi dari situ saya sadar, bahwa ayah saya adalah manusia yang sebaik itu dengan sesamanya dan ternyata di dunia ini tidak mudah menemukan sosok yang sepertinya. Hal itulah yang membuat saya 'jatuh cinta' dan menjadikannya 'cinta pertama' saya.


Namun sayang, 'cinta pertama' saya hanya bisa melihat dan membesarkan saya hanya sampai saya berumur 18 tahun. Tepatnya bulan September 2015, itu adalah patah hati terbesar dalam hidup saya.
Mungkin kalian bisa membayangkan, bagaimana sebuah 'kisah cinta' yang bertahan selama 18 tahun harus berakhir dan salah satunya harus merelakan kepergian yang dicintainya?




Itu tidak mudah.
Saya sempat kehilangan arah,
Saya sempat tidak tau bagaimana melanjutkan hidup saya tanpanya, dan
Saya sempat membenci diri saya sendiri.
Menyesal karena saya belum bisa berbuat apa-apa untuknya selama 18 tahun ini.
Tapi saya seketika ingat pesan terakhirnya, singkatnya, dia memberikan kepercayaannya kepada saya agar saya bisa melanjutkan-atau bahkan melampaui mimpi-mimpinya.

Ah, raut wajah keriput dan lelahnya masih seringkali terngiang dikepala saya saat dia berpesan demikian. Saya rindu. Sangat.

Namun begitu, kini saya sudah melepaskannya-dengan berharap semoga tuhan memberikan seseorang yang sebaik dan seindah 'cinta pertama' saya.
Semoga.